Sabtu, 28 Desember 2013

Pergi dari rumah

Ruang Tamu
Tepat adzan Jum'at berkumandang siang ini, mama sedang membereskan sesuatu dan terlihat sangat sibuk. Sepertinya kejadian 2 jam yang lalu itu seakan-akan tidak pernah terjadi. Dada ini rasanya sesak, kalau gak bisa gue tahan isinya pasti udah tumpah kayak tadi. Gue masih menunggu di ruang tamu, gak biasanya gue bisa duduk lama di tempat ini. Rasanya ngantuk banget, mungkin gue cape karena udah banyak nangis barusan.
Sebelum pergi gue sempat pamit sama mama dan berlalu gitu aja. Saat keluar dari rumah perasaan gue benar-benar lebih sakit, dan gue enggan untuk menengok kebelakang, ke rumah itu. Cuaca cukup panas siang ini, baru jalan sebentar aja kepala gue udah pusing, dan gue tambah ngantuk. Sebenarnya gue gak punya tujuan, karena marah gue memutuskan untuk keluar rumah gitu aja. Kemana ya? Gue sama sekali sendirian sekarang.
Bandung Indah Plaza
Udahsejam gue duduk disalah satu sudut mall ini sambil memeluk tas yang isinya cukup berat karena banyak barang yang gue bawa, memperhatikan orang-orang yang lewat satu persatu. Semua orang kelihatan berkelompok, gak ada yang sendirian kayak gue, dan mereka terlihat bahagia. Perlahan air mata mulai memenuhi kelopak mata gue, tapi gue menahannya untuk gak jatuh. Gue iri, jelas. Keadaan seperti ini menambah alasan gue untuk iri kepada orang-orang itu. Rasanya gak adil, tapi inilah kenyataannya.
Daripada duduk lebih lama di sini, gue jalan-jalan ke toko buku. Udah lama gue gak beli buku bacaan, dan ternyata banyak buku baru yang belum gue baca. Dulu suka mimpi, kalau karya dari tulisan gue bisa jadi sebuah buku, dibaca orang lain dan nama gue bakalan ada di sana, menjadi salah satu penulis novel seperti Agnes Davonar atau Guntur Alam misalnya. Tapi, sampai kapanpun itu bakalan hanya jadi mimpi yang gak kesampaian. Sedih juga.
Stasiun Kereta Api
Gue masih gak punya tujuan, udah jalan kesana kemari malah bikin gue cape dan tambah lemes. Tadinya gue pengen banget beli tiket kereta api menuju Jakarta, tapi karena ini lagi musimnya liburan semua tiket jurusan Jakarta udah abis terjual. Sebenarnya gue ragu untuk pulang, gue pengen pergi kemana aja asal bukan ke rumah itu. Tapi, gue tau diri. Uang yang gue bawa gak akan cukup, bisa-bisa gue malah jadi gembel nantinya. Seharian ini juga gue gak makan, boro-boro inget sama yang namanya makan kalau suasana hati gue hancur kayak gini. Walaupun hati gue gak mau, tapi gue memutuskan untuk pulang aja.
Didepan Rumah
Sesampainya di depan rumah, gue ragu untuk masuk. Setelah gue mendengar percakapan orang dari dalam rumah, gue yakin mereka udah lupa apa yang terjadi tadi pagi. Semuanya terdengar biasa aja saat gue dengar mama tertawa bersama Niko, ini malah bikin gue tambah kesel, gue merasa percuma aja karena memutuskan untuk pulang, gak ada yang ngerti gimana perasaan gue sekarang. Dan gue merasa tambah tambah tambah sendirian... :((

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Leave a message...