Tampilkan postingan dengan label fam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Januari 2014

Hubbub

Ya Allah...
Mungkin ini cobaan yang harus gue hadapi, banyak teman dan orang lain yang bilang kalau cobaan pasti ada bahkan disaat kita sedang mempersiapkan hari penting kita sendiri.
Termasuk yang gue hadapi saat ini, semenjak mempersiapkan segala yang dibutuhkan buat pernikahan gue nanti, papa sering banget marah-marah sama gue, berbeda pendapat itu seharusnya biasa, tapi giliran gue menjelaskan maksud atau apapun yang gue mau, papa selalu marah dan saat bicara nadanya selalu meninggi seakan segala sesuatunya adalah kesalahan gue. Sedih aja rasanya, lagi enak makan bareng tau-tau pas ngobrolin soal gedung gak tau salahnya dimana papa tiba-tiba aja marah, padahal gue biasa aja, gue ngomong juga berdasarkan apa yang gue tau. Pengen banget nangis dan marah, tapi gue cuma bisa nahan semuanya di hati, gue gak mau membuat suasana tambah kacau. Gue cuma heran aja, kok semenjak ngurusin persiapan itu orang tua gue sering banget marah dan bahkan berantem. Kesannya jadi kayak kepaksa gitu, hmmmm...
So, gue jadi sering down karena masalah kayak gini, gue jadi sedih kenapa harus kayak gitu, seharusnya papa sama mama senang dan berbahagia buat gue.
Mungkin ini bumbunya, ada saatnya ini terjadi, gue cuma harus menambah porsi kesabarannya aja.
Gue yakin, Allah selalu tau apa yang terbaik dan tau kalau gue bisa menghadapi masalah kecil ini.
Astagfirullah...

Fighting Pandaaaaaa... wushaaa...

Minggu, 29 Desember 2013

Berbaikan

Hello Sunday...
Demi menghindari masalah, gue pergi keluar rumah (lagi). Gue merasa jika berada di rumah itu malah bikin gue semakin sedih. Sebenarnya gue merindukan saat kebersamaan antara gue dan kedua adik gue di rumah itu, biasanya setiap libur seperti hari ini gue dan Nita bisa seharian penuh menonton drama Korea kesukaan kita berdua, atau kita pergi jalan-jalan naik motor ke Kota untuk menghabiskan waktu. Ini egois, gue tau dan malah pergi begitu aja saat papa mau mendamaikan kita bertiga. Disisi lain gue gak perduli, tapi disisi yang lainnya gue merasa sedih.
Mungkin dengan berjalan-jalan hari ini bisa membuat perasaan gue membaik. Membaur dengan orang-orang seperti ini membuat gue gak kelihatan suntuk. Mungkin...
Di stasiun tadi gue melihat beberapa teman lama, karena gue lagi malas untuk ngobrol gue berpura-pura gak melihat mereka, gak apalah gue dikata sombong, mereka kan gak tau suasana hati gue saat ini.

Habis ketemu orang tadi gue gak sempet makan atau minum. Kebetulan hari ini gue ada janji sama teman, tapi hasilnya nihil. Belum rejeki gue kali ya.. karena lapar tanpa sadar gue udah ada di tempat makanan cepat saji di daerah merdeka. Gue cukup lama di sini, makan burger sambil melihat orang lalu lalang di jalanan sana. Tiba-tiba ada dua orang cewek, mereka berpegangan tangan sambil bawa barang belanjaannya lewat di depan gue. Yang bikin sedih adalah kenyataan kalau mereka itu kakak beradik, mereka jadi mengiatkan gue. Saat-saat gue dan Nita sering jalan bareng berdua. Seketika itu air mata gue jatuh, gue sedih karena merasa iri.. gue merindukan saat-saat itu, ketawa bareng, saling mengisi dan memahami kekurangan masing-masing. Memang, gue dan Nita baru dekat sebagai saudara ini baru dua tahunan. Tapi, kedekatan itu lebih menyenangkan dari sebelumnya. Mungkin inilah hal yang paling disayangkan dari hubungan kita, ketika ada masalah kecil yang terjadi, rasanya akan sesakit ini. Gue sayang sama dia, melebihi apapun.
Gue menyesal karena memilih untuk gak perduli, tapi gue gak mau seperti ini terus. Kalah dengan ego sesaat. Mungkin gue harus pulang dan berbaikan dengannya, bagaimanapun juga dia saudara kandung gue.
Gak enak rasanya kalau harus bermusuhan sampai enggak nanya satu sama lain, apalagi kalau kita tinggal satu rumah.
*cantelan*

Sabtu, 28 Desember 2013

Isi hati

Semalam, gue ngerasa kamar ini begitu pengap dan bikin gue keringetan. Kayaknya adem kalau gue tidur di lantai, gue gak peduli kalau nantinya gue bakalan masuk angin. Makanya gue pindah ke bawah karena gerah.
Tapi, gak tau kenapa gue malah bikin adik gue nangis. Dia ngerasa tersinggung atau apa lah itu namanya, tapi gue gak peduli. Mau dia nangis, atau apa pun itu gue gak akan ambil pusing lagi. Gue juga merasakan hal sama kemarin, sedih dan marah karena tersinggung oleh perlakuan dia ke gue. Kali ini sih sebenarnya gue juga gak sengaja bikin dia nangis, ini hal yang kebetulan aja terjadi. Dia ngambek sambi mewek keluar kamar dan bikin mama marah sama gue.

Mungkin bisa dibilang ini adalah pertengkaran paling hebat yang pernah terjadi antara gue dan Nita. Sebelumnya beberapa bulan yang lalu terjadi hal yang sama juga, namun saat itu kita berdua bisa langsung berbaikan. Tapi, kali ini sepertinya butuh waktu lebih lama untuk mengembalikan keadaan. Kayaknya gue terlalu marah kali ini, gue gak bisa meredam amarah yang ada di hati ini begitu aja. Semua terjadi juga bukan karena Nita seorang, papa juga jadi sebabnya dan Niko kali ini lagi-lagi ikut ambil bagiannya bikin gue nangis. Gue selalu merasa kasih sayang mama sama papa ke gue itu beda, mereka lebih care sama anaknya yang lain. Seakan-akan gue lebih bisa mengatasi semua masalah yang gue punya sendirian tanpa bantuan dan dukungan mereka.
Selama ini sebisa mungkin semua hal gue yang melakukannya seorang diri, gue berusaha sendiri, tanpa mereka tau apa yang gue rasakan dan apa yang terjadi. Tapi, bukan berarti gue baik-baik aja dalam segala hal. Gue juga butuh perhatian dan dukungan dari mereka juga.

Kamis, 19 Desember 2013

Jahat Kepada Bibi

Suara ketukan dipintu itu bikin gue terbangun, mendengar suara itu gue jadi kesel. Siapa sih yang berani ganggu gue sambil gedor pintu kayak gitu, emang ada maling?
Dengan sekuat tenaga gue coba untuk bangun, punggung gue masih sakit, malah ini lebih sakit dari kemarin, ditambah lagi rasa sakit dikepala karena tiba-tiba harus bangun kayak gini.
Kenapa ya, bibi selalu bikin gue kesel lebih banyak? Kadang tanpa sebab, gue bisa marah besar padanya, dulu malah gue pernah memukul badan mungilnya itu karena saking keselnya. Kita sering berantem dan berteriak satu sama lain.
Mungkin karena keadaannya yang tidak sempurna itu, dia agak berbeda dari orang normal pada umumnya, bibi kurang bisa mendengar suara dan berbicarapun kadang tidak jelas. Sebenarnya gue gak keberatan dengan keadaannya, gue memahami kekurangannya itu. Bibi adalah adik dari kakek gue, udah lama dia ikut bersama keluarga ini, malah sebelum gue lahir, dan saat nenek meninggal 6 tahun lalu, sampai sekarang dia masih ada di sini.
Beberapa hal yang gak gue suka darinya adalah beliau susah di atur, susah di kasih tau, dan lebih senang bekerja atau diam di rumah orang lain. Jujur, gue gak mau dia di bodoh-bodohi oleh orang lain yang cuma memanfaatkan tenaganya saja, gue tau dia sempat gak dibayar oleh tetangga yang pakai jasanya. Tapi, bibi gue ini tetap aja sering pergi ke sana, kesel banget rasanya.
Bahkan tadipun, dia membangunkan gue karena minta di bukakan pintu, seperti biasa dia mau pergi ke tempat orang lain. Gue gak suka, kenapa sih bibi gak diam di rumah aja, dia kan bisa istirahat, makan enak, nonton tv sepuasnya, gak usah cape-cape kerja di rumah orang lain sebagai pembantu.
Tapi, mau bagaimanapun gue gak bisa melarang-larang dia. Lagian bibi gak pernah ngerti apa yang gue atau mama bilang untuk kebaikannya, kali ini gue merasa bersalah karena sudah marah saat membukakan pintu dan membantingnya saat dia keluar tadi.
Sebenarnya gue menyesal karena udah jahat kepadanya, sungguh menyesal. Nanti kalau dia pulang, gue akan meminta maaf padanya, dia itu tetap saudara dan anggota keluarga ini, gue hanya gak suka dia seperti itu, setiap jam 7 pagi dia pasti keluar rumah dan pulang sore kayak orang kerja kantoran. Mending kalau bener di bayar, kalau gak? Bibi itu terlalu baik sama orang.
Ya Allah.......................
Speechless :(
Published with Blogger-droid v2.0.10