Selasa, 31 Desember 2013

Malam Tahun Baru

Ini adalah hari terakhir dibulan Desember, dan kali ini gue gak pergi seperti tahun-tahun sebelumnya. Bandung juga dari pagi diguyur hujan kecil, bikin nyaman diam di dalam rumah dan selimutan di kamar. Kebetulan ada drama Korea yang belum selesai gue liat, untungnya Nita libur hari ini jadi kita berdua bisa nonton bareng. Hehe
Sebenarnya sih pengen banget malam tahun baru ini ke Trans Studio Bandung, mengabiskan waktu untuk nonton Band dan main wahana di sana sampai pergantian tahun. Kayaknya bakalan seru banget ada di sana, apalagi kalau pergi ke tempat pemandian air panas kayak Ciater.

Tapi, kali ini gue memang harus ada di rumah.. biar bisa berkumpul bersama keluarga merayakan malam tahun baru.
Suara terompet juga udah mulai kedengeran, anak-anak kecil di komplek gue udah mulai berisik tiup-tiup terompet.. eh, ada suara petasan juga. Jadi inget dua tahun lalu gue pernah beli mercon yang harga satuannya sampai 60 ribu, saat itu di rumah om gue mercon yang harganya mahal itu dinyalakan pas jam 00.00 tengah malam. Bunyi letusannya keras banget, tapi apinya juga bagus. Kali ini gue cuma bisa lihat mercon dan kembang api itu hanya di rumah. Sebentar lagi, pas 5 menit kita akan menuju tahun 2014. Banyak harapan (seperti biasa) dan keinginan yang ingin gue capai di tahun yang baru ini, semoga semua bisa berjalan seperti yang gue harapkan. Amin

Happy New Year... ♥

Published with Blogger-droid v2.0.10

Minggu, 29 Desember 2013

Berbaikan

Hello Sunday...
Demi menghindari masalah, gue pergi keluar rumah (lagi). Gue merasa jika berada di rumah itu malah bikin gue semakin sedih. Sebenarnya gue merindukan saat kebersamaan antara gue dan kedua adik gue di rumah itu, biasanya setiap libur seperti hari ini gue dan Nita bisa seharian penuh menonton drama Korea kesukaan kita berdua, atau kita pergi jalan-jalan naik motor ke Kota untuk menghabiskan waktu. Ini egois, gue tau dan malah pergi begitu aja saat papa mau mendamaikan kita bertiga. Disisi lain gue gak perduli, tapi disisi yang lainnya gue merasa sedih.
Mungkin dengan berjalan-jalan hari ini bisa membuat perasaan gue membaik. Membaur dengan orang-orang seperti ini membuat gue gak kelihatan suntuk. Mungkin...
Di stasiun tadi gue melihat beberapa teman lama, karena gue lagi malas untuk ngobrol gue berpura-pura gak melihat mereka, gak apalah gue dikata sombong, mereka kan gak tau suasana hati gue saat ini.

Habis ketemu orang tadi gue gak sempet makan atau minum. Kebetulan hari ini gue ada janji sama teman, tapi hasilnya nihil. Belum rejeki gue kali ya.. karena lapar tanpa sadar gue udah ada di tempat makanan cepat saji di daerah merdeka. Gue cukup lama di sini, makan burger sambil melihat orang lalu lalang di jalanan sana. Tiba-tiba ada dua orang cewek, mereka berpegangan tangan sambil bawa barang belanjaannya lewat di depan gue. Yang bikin sedih adalah kenyataan kalau mereka itu kakak beradik, mereka jadi mengiatkan gue. Saat-saat gue dan Nita sering jalan bareng berdua. Seketika itu air mata gue jatuh, gue sedih karena merasa iri.. gue merindukan saat-saat itu, ketawa bareng, saling mengisi dan memahami kekurangan masing-masing. Memang, gue dan Nita baru dekat sebagai saudara ini baru dua tahunan. Tapi, kedekatan itu lebih menyenangkan dari sebelumnya. Mungkin inilah hal yang paling disayangkan dari hubungan kita, ketika ada masalah kecil yang terjadi, rasanya akan sesakit ini. Gue sayang sama dia, melebihi apapun.
Gue menyesal karena memilih untuk gak perduli, tapi gue gak mau seperti ini terus. Kalah dengan ego sesaat. Mungkin gue harus pulang dan berbaikan dengannya, bagaimanapun juga dia saudara kandung gue.
Gak enak rasanya kalau harus bermusuhan sampai enggak nanya satu sama lain, apalagi kalau kita tinggal satu rumah.
*cantelan*

Sabtu, 28 Desember 2013

Isi hati

Semalam, gue ngerasa kamar ini begitu pengap dan bikin gue keringetan. Kayaknya adem kalau gue tidur di lantai, gue gak peduli kalau nantinya gue bakalan masuk angin. Makanya gue pindah ke bawah karena gerah.
Tapi, gak tau kenapa gue malah bikin adik gue nangis. Dia ngerasa tersinggung atau apa lah itu namanya, tapi gue gak peduli. Mau dia nangis, atau apa pun itu gue gak akan ambil pusing lagi. Gue juga merasakan hal sama kemarin, sedih dan marah karena tersinggung oleh perlakuan dia ke gue. Kali ini sih sebenarnya gue juga gak sengaja bikin dia nangis, ini hal yang kebetulan aja terjadi. Dia ngambek sambi mewek keluar kamar dan bikin mama marah sama gue.

Mungkin bisa dibilang ini adalah pertengkaran paling hebat yang pernah terjadi antara gue dan Nita. Sebelumnya beberapa bulan yang lalu terjadi hal yang sama juga, namun saat itu kita berdua bisa langsung berbaikan. Tapi, kali ini sepertinya butuh waktu lebih lama untuk mengembalikan keadaan. Kayaknya gue terlalu marah kali ini, gue gak bisa meredam amarah yang ada di hati ini begitu aja. Semua terjadi juga bukan karena Nita seorang, papa juga jadi sebabnya dan Niko kali ini lagi-lagi ikut ambil bagiannya bikin gue nangis. Gue selalu merasa kasih sayang mama sama papa ke gue itu beda, mereka lebih care sama anaknya yang lain. Seakan-akan gue lebih bisa mengatasi semua masalah yang gue punya sendirian tanpa bantuan dan dukungan mereka.
Selama ini sebisa mungkin semua hal gue yang melakukannya seorang diri, gue berusaha sendiri, tanpa mereka tau apa yang gue rasakan dan apa yang terjadi. Tapi, bukan berarti gue baik-baik aja dalam segala hal. Gue juga butuh perhatian dan dukungan dari mereka juga.

Pergi dari rumah

Ruang Tamu
Tepat adzan Jum'at berkumandang siang ini, mama sedang membereskan sesuatu dan terlihat sangat sibuk. Sepertinya kejadian 2 jam yang lalu itu seakan-akan tidak pernah terjadi. Dada ini rasanya sesak, kalau gak bisa gue tahan isinya pasti udah tumpah kayak tadi. Gue masih menunggu di ruang tamu, gak biasanya gue bisa duduk lama di tempat ini. Rasanya ngantuk banget, mungkin gue cape karena udah banyak nangis barusan.
Sebelum pergi gue sempat pamit sama mama dan berlalu gitu aja. Saat keluar dari rumah perasaan gue benar-benar lebih sakit, dan gue enggan untuk menengok kebelakang, ke rumah itu. Cuaca cukup panas siang ini, baru jalan sebentar aja kepala gue udah pusing, dan gue tambah ngantuk. Sebenarnya gue gak punya tujuan, karena marah gue memutuskan untuk keluar rumah gitu aja. Kemana ya? Gue sama sekali sendirian sekarang.
Bandung Indah Plaza
Udahsejam gue duduk disalah satu sudut mall ini sambil memeluk tas yang isinya cukup berat karena banyak barang yang gue bawa, memperhatikan orang-orang yang lewat satu persatu. Semua orang kelihatan berkelompok, gak ada yang sendirian kayak gue, dan mereka terlihat bahagia. Perlahan air mata mulai memenuhi kelopak mata gue, tapi gue menahannya untuk gak jatuh. Gue iri, jelas. Keadaan seperti ini menambah alasan gue untuk iri kepada orang-orang itu. Rasanya gak adil, tapi inilah kenyataannya.
Daripada duduk lebih lama di sini, gue jalan-jalan ke toko buku. Udah lama gue gak beli buku bacaan, dan ternyata banyak buku baru yang belum gue baca. Dulu suka mimpi, kalau karya dari tulisan gue bisa jadi sebuah buku, dibaca orang lain dan nama gue bakalan ada di sana, menjadi salah satu penulis novel seperti Agnes Davonar atau Guntur Alam misalnya. Tapi, sampai kapanpun itu bakalan hanya jadi mimpi yang gak kesampaian. Sedih juga.
Stasiun Kereta Api
Gue masih gak punya tujuan, udah jalan kesana kemari malah bikin gue cape dan tambah lemes. Tadinya gue pengen banget beli tiket kereta api menuju Jakarta, tapi karena ini lagi musimnya liburan semua tiket jurusan Jakarta udah abis terjual. Sebenarnya gue ragu untuk pulang, gue pengen pergi kemana aja asal bukan ke rumah itu. Tapi, gue tau diri. Uang yang gue bawa gak akan cukup, bisa-bisa gue malah jadi gembel nantinya. Seharian ini juga gue gak makan, boro-boro inget sama yang namanya makan kalau suasana hati gue hancur kayak gini. Walaupun hati gue gak mau, tapi gue memutuskan untuk pulang aja.
Didepan Rumah
Sesampainya di depan rumah, gue ragu untuk masuk. Setelah gue mendengar percakapan orang dari dalam rumah, gue yakin mereka udah lupa apa yang terjadi tadi pagi. Semuanya terdengar biasa aja saat gue dengar mama tertawa bersama Niko, ini malah bikin gue tambah kesel, gue merasa percuma aja karena memutuskan untuk pulang, gak ada yang ngerti gimana perasaan gue sekarang. Dan gue merasa tambah tambah tambah sendirian... :((

Rabu, 25 Desember 2013

Meminta Clue

Tiba-tiba aja gue terbangun, gak tau kenapa perasaan gue ini juga gak ada isinya. Kosong...
Tapi, gue pengen banget shalat dan berdoa, gue cuma pengen ngobrol sama sang pendengar, Tuhan mungkin bisa membantu gue mendapatkan clue-nya. Dia pasti tau apa yang paling baik untuk gue saat ini.
Biasanya kalau kebangun kayak gini, boro-boro gue bisa bangun dari tempat tidur. Susah banget, apalagi kalau sekedar pengen buang air kecil. Kali ini rasanya berbeda, rasanya bukan gue yang menggerakan badan ini. Seolah-olah gue memang harus melakukannya. Waktu menunjukkan pukul 03.50, dengan mantap gue ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sebelum shalat Subuh, gue bakalan ber-Istikharah dulu, gue harus meminta petunjuk untuk masalah ini. Gue merasa ragu dan belum yakin apakah perusahaan ini adalah pilihan yang baik untuk gue... bekerja di sebuah perusahaan besar seperti ini memang impian setiap orang, apalagi jika salarynya juga besar. Siapa sih yang gak mau punya penghasilan besar setiap bulannya? Semua orang pasti menginginkannya, termasuk gue. Mungkin ini kesempatan yang langka buat gue yang cuma lulusan SMA. Tapi, gue masih merasa ragu. Banyak pertimbangan yang muncul dari diri gue ini. Dimulai dari hal yang kecil, bahwa ini bukan bidangnya gue. Cuma itu masalah awalnya.
Yaaa, gue cuma bisa curhat sama Tuhan gue, gak ada yang bisa selain Dia. Hanya Dia pula yang tau jawabannya, karena selama ini Tuhan selalu benar dan memberikan jalan yang terbaik ketika gue ragu untuk memilih atau memutuskan sesuatu.
“Ya Rab, semoga apa yang menjadi keputusanku nanti, itulah hal yang paling benar dan atas kehendakmu. Amin...“

Jumat, 20 Desember 2013

56 Bulan

Dingin banget malam ini, dan gue belum bisa tidur, badan juga rasanya sakit semua. Makin hari punggung makin kerasa nyerinya...
Memasuki hari Jum'at ditanggal 20 Desember tahun 2013, tersisa 11 hari menuju tahun yang baru. Gak kerasa waktu cepat sekali berlalu.....
Padahal baru kemarin gue merasakan ulang tahun yang ke 25, usia itu sedikit bikin gue gugup. Sekarang tinggal menunggu usia yang ke 26 tahun, rasanya deg degan banget. Tiga bulan itu gak lama loh... hehe ^^
Oia, gue baru ingat kalau hari ini juga hari yang penting. Walaupun bagi sebagian orang hari jadian itu gak penting-penting amat, buat gue hari itu sangatlah berharga. Pas dihari ini, hubungan gue sama Feri genap 56 bulan, waktu ini lumayan lama untuk gue. Banyak hal yang udah gue lewatkan bersama dengan Feri, baik itu suka dan duka. Walaupun gue bukan pasangan yang sempurna baginya, dia selalu bisa menerima gue apa adanya.
Kalau dibayangkan lagi semua hal yang pernah terjadi, rasanyaaaaa.. gak percaya. Ini namanya kenangan, bakalan terukir indah di sini, di hati ini. Betapa beruntungnya gue bertemu dengannya dulu, dan bisa dekat dengannya sampai sekarang. Harapan gue cuma satu, yaitu harapan yang sama dengan mama sama papa. Semoga tidak lama lagi semua harapan itu tercapai, amin..
Hoaaammmm, kayaknya minum susu hangat sebelum tidur bukan ide yang buruk. Mungkin gue lapar, makanya sampai gak bisa tidur.  Padahal tadi gue udah makan mie rebus pakai telur buatan papa, Hehe..
Good Night ♥
Published with Blogger-droid v2.0.10

Kamis, 19 Desember 2013

Jahat Kepada Bibi

Suara ketukan dipintu itu bikin gue terbangun, mendengar suara itu gue jadi kesel. Siapa sih yang berani ganggu gue sambil gedor pintu kayak gitu, emang ada maling?
Dengan sekuat tenaga gue coba untuk bangun, punggung gue masih sakit, malah ini lebih sakit dari kemarin, ditambah lagi rasa sakit dikepala karena tiba-tiba harus bangun kayak gini.
Kenapa ya, bibi selalu bikin gue kesel lebih banyak? Kadang tanpa sebab, gue bisa marah besar padanya, dulu malah gue pernah memukul badan mungilnya itu karena saking keselnya. Kita sering berantem dan berteriak satu sama lain.
Mungkin karena keadaannya yang tidak sempurna itu, dia agak berbeda dari orang normal pada umumnya, bibi kurang bisa mendengar suara dan berbicarapun kadang tidak jelas. Sebenarnya gue gak keberatan dengan keadaannya, gue memahami kekurangannya itu. Bibi adalah adik dari kakek gue, udah lama dia ikut bersama keluarga ini, malah sebelum gue lahir, dan saat nenek meninggal 6 tahun lalu, sampai sekarang dia masih ada di sini.
Beberapa hal yang gak gue suka darinya adalah beliau susah di atur, susah di kasih tau, dan lebih senang bekerja atau diam di rumah orang lain. Jujur, gue gak mau dia di bodoh-bodohi oleh orang lain yang cuma memanfaatkan tenaganya saja, gue tau dia sempat gak dibayar oleh tetangga yang pakai jasanya. Tapi, bibi gue ini tetap aja sering pergi ke sana, kesel banget rasanya.
Bahkan tadipun, dia membangunkan gue karena minta di bukakan pintu, seperti biasa dia mau pergi ke tempat orang lain. Gue gak suka, kenapa sih bibi gak diam di rumah aja, dia kan bisa istirahat, makan enak, nonton tv sepuasnya, gak usah cape-cape kerja di rumah orang lain sebagai pembantu.
Tapi, mau bagaimanapun gue gak bisa melarang-larang dia. Lagian bibi gak pernah ngerti apa yang gue atau mama bilang untuk kebaikannya, kali ini gue merasa bersalah karena sudah marah saat membukakan pintu dan membantingnya saat dia keluar tadi.
Sebenarnya gue menyesal karena udah jahat kepadanya, sungguh menyesal. Nanti kalau dia pulang, gue akan meminta maaf padanya, dia itu tetap saudara dan anggota keluarga ini, gue hanya gak suka dia seperti itu, setiap jam 7 pagi dia pasti keluar rumah dan pulang sore kayak orang kerja kantoran. Mending kalau bener di bayar, kalau gak? Bibi itu terlalu baik sama orang.
Ya Allah.......................
Speechless :(
Published with Blogger-droid v2.0.10

Rabu, 18 Desember 2013

Selembar Foto Lama

Sendirian di rumah seperti biasa, kebetulan juga mati lampu. Sepi, gue putuskan untuk membereskan lemari (lagi). Gak tau kenapa, lemari ini lah yang selalu berantakkan, lemari berisi berbagai jenis buku dan barang-barang pribadi gue. Padahal sebisa mungkin gue atur supaya rapih dan gak berantakkan, walau gak setiap hari.
Buku tebal berwarna hitam itu menarik perhatian gue, udah lama gue gak liat lagi isinya. Sebenarnya ini cuma buku kosong yang gak sempat gue isi, dulu niatnya sih buat nulis curhatan. Cuma ada selembar foto lama kok. Foto gue bersama mereka, sahabat terbaik yang pernah gue punya. Perlahan gambaran kedekatan kita berempat saat mengambil foto ini seperti hidup kembali, ke 8 tahun silam. Yahh, betapa senangnya punya sahabat seperti mereka, yang satu hobi banget bikin video amatir, yang satunya lagi hobi banget gonta ganti pacar, dan yang satunya ini hobi banget ngaca cuma buat mastiin rambutnya rapi atau gak. Hehe... satu kata yang muncul ketika melihat foto ini adalah 'Kangen'. Semenjak salah satu sahabat gue meninggal dalam kecelakaan di Bali, persahabatan kita itu seolah-olah selesai sampai di situ. Bukan karena kita bermusuhan, tapi karena jalan hidup kita udah berbeda. Masing-masing udah sibuk dengan urusannya sendiri, berbeda negara juga menjadi salah satu alasannya. Ini udah keputusan bersama, semenjak pertemuan terakhir tahun lalu, gue memutuskan untuk tidak pernah membahas masalah itu. Cuma ini yang tersisa, menyakitkan tapi inilah adanya.
Gue menghela napas panjang untuk menenangkan diri, ini mungkin untuk yang terakhir kalinya gue melihat foto ini, gue udah memutuskan untuk menyimpannya kembali, selamanya.

Yah, gue berharap PLN cepet beresin urusan mati lampu ini, handphone gue udah hampir wafat dan gue gak suka gelap-gelapan kayak gini.

Published with Blogger-droid v2.0.10

Selasa, 17 Desember 2013

Nangis dulu yaa..

Terkadang, gue bisa menghadapi cobaan dengan hanya menarik nafas yang dalam lalu menghembuskannya lewat mulut secara perlahan, dan gue akhiri dengan tersenyum. Biasanya gue gak pernah merasa sedih setelah melakukan hal tadi, gue selalu bisa menahan semuanya dengan cara seperti itu. Tapi, belakangan cara itu malah gak mempan, semua jadi sebaliknya. Saat gue menarik nafas dalam, rasanya mulai berat, dan saat gue menghembuskannya perlahan, air mata gue mulai berkumpul, dada terasa sakit, at last gue gak bisa lagi tersenyum karena air mata gue tumpah saat itu juga. Mungkin untuk beberapa alasan gue memang membutuhkannya, butuh menangis dan merasa lemah. Bukan berarti gue menyerah, hanya saja gue merasa bingung, gak tahu lagi bagaimana caranya untuk lebih kuat.
Sebenernya disisi gue yang lain, gue bisa melewati ini semua dan gak perlu jadi cengeng, tapi disisi yang satunya lagi gue merasa ke-cape-an.

Gue udah lama dan terbiasa menyimpan semua hal yang gak enak, sendirian. Pengennya sih gue curahin semua ganjalan di hati ini ke temen atau pacar, tapi gue gak bisa.Gue selalu susah untuk ngomong, dan jalan lainnya selalu gue akali dengan melakukan sesuatu yang gue suka supaya masalah yang terjadi bisa gue lupain sejenak. Tapi, lama kelamaan gue ngerasa jadi orang yang paling sendirian di dunia ini. Gue gak tertutup amat sih sebenernya, gue easy going dan mudah akrab sama orang lain. Tapi, ada beberapa hal yang gak bisa gue umbar sembarangan, walau terkadang gue masih aja bisa keceplosan.
Hmmmm..........
Rasanya semua hal yang gue simpen, sesuatu yang bikin gue sedih ini udah gak bisa gue tampung sendirian, susah banget untuk nutupin raut muka sedih, susah untuk nahan perasaaan marah saat ini.
Hhhhhhh..........
Gue udah puas sih nangis dan marah-marah di kamar, tapi tetep aja masih ada sesuatu yang kurang. Udah gitu karena kebanyakan nangis, kepala juga agak puyeng. Huhu
Ya udah deh, mendingan gue tidur siang aja. Lagian cuacanya pas banget untuk sembunyi di dalem selimut lebih lama, Bandung lagi dingin dan sering hujan. Semoga pas gue bangun nanti, perasaan gue udah enakan. Yuk boci ^^

Published with Blogger-droid v2.0.10

Minggu, 15 Desember 2013

Teh Aceu Wedding

Jam menunjukkan pukul 9 tepat, gue hampir terlambat untuk acara akad pagi ini. Oia, bukan gue yang nikah loh... hehe... dengan gaun warna emas yang gue pakai dan panjangnya sampai mata kaki ini sedikit menghalangi gue untuk berjalan, yak hari ini gue pakai baju yang feminim.^^
Beruntung, gue bisa ketemu sama calon mempelai wanita, teh Wulan begitu anggun dengan kebaya akad berwarna putihnya, dan gue dapat kesempatan mengiringi teh Wulan ke tempat akad bersama dengan de Rani. Di sana gue ketemu sama saudara dari keluarganya Feri, mereka selalu menyambutku dengan baik, seakan-akan gue sudah menjadi bagian dari mereka. Andaikan gue bisa seperti ini dengan saudara dari mama atau papa, rasanya pasti seneng banget.
Nuansa gedung berwarna coklat dan goldnya bagus, dekorasinya pas dengan gaun resepsi yang teh Wulan pakai. Gak lama lagi gue bakalan duduk di pelaminan yang sama seperti itu juga, tinggal menunggu waktunya saja.

Siapa sih, cewek yang gak mau menikah dan mau hidup sendirian sampai tua? Hehe... kalau udah ketemu sama orang yang sayang sama kita, buat apa disia-siakan? Karena sulit mencari orang yang benar-benar mencintai kita dengan tulus dan ingin menjadi pasangan kita sampai tua. Mau bagaimanapun sulitnya mempertahankan sebuah hubungan, jika kita serius dan niat kita baik semua pasti ada jalan keluarnya, walau itu membuat keyakinan kita goyah. Tapi, yakinlah satu hal, hati tidak bisa dibohongi.
(Sempet ya ngeblog disaat pesta pernikahan berlangsung... hehhe)

Pesta semakin meriah ketika kedua mempelai yang sudah sah menjadi suami istri itu memasuki pelaminannya, semua orang ikut berbahagia dan memberikan selamat serta doanya. Ada perasaan lega dihati gue, entah itu lega karena apa, yang jelas itu perasaan yang baik. Mungkin udah saatnya gue memikirkan masa depan dan melaksanakan apa yang menjadi keinginan terbesar orang tua gue.
Selamat ya teh, mungkin setelah ini adalah giliran gue. Hehehe ^^
Semoga cepat dikaruniai momongan yang sholeh dan berbakti, amin.....
Okey, let's get the party today